Saturday, November 23, 2019

Resensi Novel Bumi Manusia


 Hasil gambar untuk NOVEL BUMI MANUSIA


Judul      : Bumi Manusia
Penulis   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit  : Lentera Dipantara
Cetakan  : 17 Januari 2011
Isi           : 535 hlm
ISBN      : 979-97312-3-2


SINOPSIS
      Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi buru karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini ditulis Pramoedya ketika masih mendekam di Pulau Buru. Sebelum ditulis pada tahun 1975, sejak tahun 1973 terlebih dahulu diceritakan ulang kepada teman-temannya. Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa munculnya pemikiran politik etis dan masa awal periode Kebangakitan Nasional . masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.
Buku ini adalah karya yang begitu mengagumkan, di dalamnya begitu banyak pesan yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Pramoedya Ananta Toer membuat ceritanya mengalir begitu saja dengan berbagai konflik yang monumental. Buku yang pernah saya baca memang tidaklah banyak, tapi sepanjang pengalaman saya dalam membaca buku, baru kali ini saya merasa benar-benar jatuh cinta pada buku ini. Kisah yang disajikan berlatar pada akhir abad 19 menjelang abad 20, memuat tentang keadaan social pada saat itu dengan segala permasalahan yang ada. Alur ceritanya begitu menarik untuk di ikuti, keadaan masyarakat pada masa pemerintahan Hindia Belanda ia gambarkan dengan begitu jelas. Berbagai permasalahan ia tuliskan dengan jelas hampir tanpa celah. Dalam tulisannya sendiri ia mengisahkan tentang kisah cinta antara seorang pribumi dengan gadis Indo keturunan Belanda.
     Minke, seorang pribumi yang mempunyai pola pikir layaknya seorang Eropa, ia memang bukanlah keturunan pribumi biasa, dalam darahnya masih mengalir darah para raja jawa, tetapi dirinya sendiri sudah hampir bukan seorang jawa, hanya tubuhnya saja yang jawa tetapi semua pandangannya tentang hidup sudah benar-benar seperti pandangan seorang Eropa. Suatu hal yang tidak biasa pada zamannya. Ia adalah seorang pemuda yang cerdas, penyuka sastra, berbeda dengan pemuda lain. Annelis Mellema, gadis yang begitu cantik, bahkan dalam buku ini kecantikannya melebihi kecantikan dari Ratu Nederland pada saat itu, Ratu Wihelmina. Ia merupakan putri dari seorang Nyai, bukan seorang Nyai biasa, bukan hanya seorang gundik yang seringkali dianggap menjijikkan. Ia merupakan putri dari seorang ibu yang luar biasa, seorang ibu yang begitu mampu mengurusi banyak pekerjaan setelah Tuan Mellema, suami tidak sahnya, berubah menjadi orang gila orang yang sudah tidak peduli pada apapun disekelilingnya. Annelis lebih memilih untuk menjadi seorang pribumi seperti ibunya, walaupun ayahnya merupakan seorang belanda. Gadis ini begitu manja pada mamanya, sikapnya begitu manis. Sangat bertolak belakang dengan sikap Annelis, abangnya, Robert Mellema merasa bahwa dirinya seorang belanda tulen dan ia pun tidak menganggap Nyai sebagai ibunya. Ia sangat mengagumi ayahnya walaupun ayahnya sendiri sudah tidak perduli lagi termasuk dirinya.
     Dalam buku ini Pramoedya menunjukkan betapa pentingnya belajar, dengan belajar, dapat mengubah nasib, seperti dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa H.B.S Minke. Bahkan pengetahuan si Nyai yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah H.B.S.
Pramoedya menuliskan kisah ini dengan sangat indah, kata-kata puitis bertebaran disana-sini. Berbagai konflik terjadi, permasalahn disana-sini. Semua ia gambarkan dengan nyata. Kisah dimulai dengan keseharian Minke, seorang Siswa H.B.S dengan berbagai kegiatannya, kemudian digambarkan berbagai situasi pada masa itu. Keseharian masyarakat pada masa itu. Semua diceritakan oleh Pramoedya dengan begitu cerdas. Pada suatu waktu, Minke diajak oleh temannya Robert Surhof untuk datang ke rumah temannya Wonokromo. Minke sudah sering mendengar desas-desus tentang keberadaan satu keluarga yang mempunyai perusahaan besar di Wonokromo itu. Nyai Ontosoroh, begitulah orang kampong menyebutnya. Pemilik dari perusahan bernama Boerderij Boeitenzorg, disukai Nyai memiliki kekuatan yang membuat tuannya sendiri bertekuk lutut padanya. Selain itu Nyai juga mempunyai pengawal yang begitu menyeramkan yang bernama Darsam. Saat itu Mike ketakutan memikirkan hal itu, tetapi tiba-tiba kereta kuda merak berhenti di depan gerbang sebuah rumah megah, lalu Robert Surhof mengajak turun. Dalam pikiran Minke berkecamuk, inikah rumah Nyai Ontosoroh ???, Robert Surhof tidak peduli pada berita itu karena ia seorang totok, belanda tulen dan tidak pernah peduli dengan apa yang dibicarakan oleh para pribumi. Mereka berdua masuk, dan disinilah kisah cinta ini dimulai dengan berbagai konflik yang rumit dan menegangkan.
Walaupun buku ini memuat kisah cinta, tetapi buku ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi cengeng karena sesuatu yang bernama “Cinta”.


 KELEBIHAN
      Buku ini membuat seolah-olah berada pada masa itu, menyaksikan langsung berbagai peristiwa yang terjadi, membuka pikiran kita tentang kehidupan dalam masa pemerintahan Hindia Belanda. Buku ini sesungguhnya memuat semua hal yang sering terjadi pada akhir abad 19 dan menjelang abad 20. Pemikiran-pemikiran untuk keadilan para pribumi, sikap masyarakat yang ada pada saat itu, strata sosial yang ada pada saat itu, semuanya terbalut dengan indah dalam kisah cinta yang terjalin antara Minke dan Annelis.

 
KEKURANGAN
      Buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan remaja, mahasiswa, tapi sangat tidak cocok dibaca bagi anak-anak, karena di dalam buku ini bahasa yang digunakan lumayan tinggi dan butuh cukup berfikir saat membaca tiap paragrafnya. Itulah kekurangan dari buku ini. Tapi isinya sangat bagus sekali.
  

TOKOH
1. Minke.
2. Annelies.
3. Ontosoroh/Sanikem. ...
4. Robert Mellema
5. Jan Dapperste/Panji Darman
6. Robert Suurhof
7.Bupati B, ayah Minke
8.Ibu Minke.

Resensi Novel Rentang Kisah








 Gambar terkait
 

Judul Buku      : Rentang Kisah

Penulis             : Gita Savitri Devi

Tebal Buku      : 207

Penerbit           : Gagas Media

Tahun Terbit    : 2017

SINOPSIS
Gita Savitri Devi adalah seorang vloger yang banyak diidolakan oleh remaja Indonesia karena isi vlognya yang banyak menginspirasi, keluesannya berbicara di depan kamera dan juga karena konten-kontennya yang banyak mengkritik keadaan Indonesia menjadikannya mendapatkan tempat dihati masyarakat. Seorang lulusan Kimia Murni di Freie Universitat Berlin ini merasa risih melihat aktivitas media sosial pemuda Indonesia yang isinya kurang berfaedah, dia berusaha merubah hal tersebut dengan menjadikan media sosial untuk hal-hal yang positif. Selain aktif sebagai youtuber Gita yang masih betah tinggal di Jerman ini juga aktif menulis di blog.
Buku Rentang Kisah adalah buku pertamanya, buku ini menceritakan perjalanan hidupnya dari mulai SMA hingga sekarang. Diawal bab, diceritakan bagaimana Gita di SMA dan juga hubungannya dengan sang Ibu. Dibagian ini kita dibawa suasana haru yang membuat kita melihat bagaimana perjuangan seorang ibu menyayangi kita yang sering kali kita benci hanya karena beda pendapat “ Dulu aku terlalu kekanak-kanakan, menginginkan Ibu memperlakukanku semanis ibu-ibu di Sinetron. Aku pengin dibelai-belai, dipuji, dan dipeluk. Sementara, Ia punya cara sendiri dalam menunjukan rasa sayang ke anaknya”.
Di buku ini juga dibahas bagaiamana terkadang hidup tidak sesuai dengan yang kita rencanakan. Seperti halnya Gita yang sudah lulus masuk ITB tapi tiba-tiba memilih kuliah di Jerman mengikuti keinginan ibunya. Dibagian ini Gita menceritakan bagaiama kekecewaan dia ketika semua rencana yang telah dia buat harus dirombak total. Dari kejadian itu pula Gita belajar untuk berpikir positif. “Untuk kali pertama aku belajar Ikhlas dan berprasangka baik atas jalan yang Allah kasih. Mungkin ini cara Dia untuk mendewasakan aku”
Gita juga berbagi kisah asmaranya dalam buku ini, bagaiamana dia pernah di sakiti sampai akhirnya bertemu seorang yang dianggap sebagai teman hidup. Disini juga diceritakan tentang awal hubungannya yang beda agama dan bagaimana Paulus kemudian menjemput hidayahnya yang akhirnya juga merubahnya menjadi lebih baik dan terus belajar tentang Islam sampai kemudian bersyukur hidup sebagai seorang muslim.
Singkatnya buku ini mengisahkan bagaimana Perjalanan hidup Gita hingga menjadi sosoknya yang sekarang. Gita yang dulunya seorang pemarah, gengsi dan egonya tinggi, sekarang bisa menjalani hidup dengan nyaman. “aku harus selalu sadar, pada dasarnya hidup yang aku miliki ini bukan diisi dengan mengejar ini dan itu, tapi untuk menghadapi dan menikmati keseruan yang dikasih sama Allah”
Membaca buku ini kita akan mengerti bagaimana kita seharusnya menghadapi kehidupan, bahwa hidup itu tak selamanya mulus, tak semua yang kita inginkan itu dapat terwujud, Allah punya cara lain untuk membuat hidup kita berarti. Membaca buku ini mengajarkan kita untuk belajar Ikhlas dan juga bersyukur dengan hidup yang kita jalani.
  
KELEBIHAN
       bahasa yang disampaikan gita begitu mengalir sehingga pembaca nyaman membacanya sampai tak terasa sudah di bab terakhir. Motivasi-motivasi yang disampaikan begitu ngena tanpa rasa digurui. Buku ini cocok bagi yang sedang galau menentukan masa depan.
Kekurangannya, karena bahasa yang digunakan begitu nyaman sampai tak terasa kalau buku ini telah selesai dibaca. 

KEKURANGAN
       Bagi saya pembahasannya kurang panjang. Karena buku ini buku tentang kisah hidupnya jadi bagaimana kita memandang bahwa kisah ini menginspirasi atau biasa saja tergantung perspektif masing-masing menilai sosok si penulis tersebut.

TOKOH
1. Gita: mempunyai karakter sopan dan menyayangi orang tua
2. Ibu gita: penyayang
3. Teman-teman Gita

Friday, November 22, 2019

Resensi Novel Pergi-Tere Liye



https://bpa.pekanbaru.go.id/wp-content/uploads/2018/07/pergiii.png
IDENTITAS BUKU
Judul Buku                  : Pergi
Penulis                         : Tere Liye; Co-author: Sarippudin
Penerbit                       : Republika Penerbit
Jumlah Halaman          : iv + 455 halaman
Genre                          : Aksi, Drama
ISBN                           : 978-602-5734-05-2
Tahun Terbit                : April 2018 
Harga Buku                 : Rp. 79.000,- (di buku republika.id) 

SINOPSIS
Novel berjudul “Pergi”, yang merupakan sekuel dari novel sebelumnya, “Pulang”, yang terbit tahun 2015 lalu.
Sama halnya dengan novel sekuel lainnya, novel ini secara utuh akan menceritakan kelanjutan hidup si tokoh utama yang ada pada novel sebelumnya, Bujang a.k.a Si Babi Hutan a.k.a Agam, yang kini menjadi seorang Tauke Besar Keluarga Tong, salah satu dari delapan keluarga penguasa shadow economy terbesar se-Asia Pasifik, menggantikan Tauke Besar lama (cerita lengkapnya bisa dibaca pada novel Pulang). Mulai dari awal hingga akhir, kita akan disuguhkan dengan kisah yang latar tempat, suasana, dan tokohnya tidak asing lagi—bagi yang sudah membaca novel Pulang. Akan tetapi, sepertinya Tere Liye menyuguhkan sesuatu yang “berbeda” dibandingkan novel sebelumnya. Jika pada novel sebelumnya membahas tentang kemanakah Bujang akan membawa dirinya “pulang”, maka pada novel ini akan membahas tentang kemanakah Bujang akan membawa Keluarga Tong dan dirinya sendiri “pergi”. Akan banyak cerita dan teka-teki masa lalu yang diungkapkan dalam perjalanan Bujang mencari tempat untuk ‘pergi’-nya.
... Sejatinya kemana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? Dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang, Bujang. Menemukan jawaban tersebut. ‘Kamu akan pergi ke mana’, Nak?” (halaman 86).
Cerita ini diawali dengan sebuah lirik lagu Meksiko yang diterjemahkan oleh Salonga—guru menembak Bujang—dalam sebuah misi untuk menyelamatkan prototype teknologi anti serangan siber yang sedang dikembangankan oleh Keluarga Tong yang dicuri oleh El Pacho, sindikat penyelundup narkoba terbesar di Amerika Selatan, yang secara tidak langsung hal ini juga berhubungan dengan muslihat Master Dragon—salah satu penguasa Shadow Economy terkuat yang bermarkas di Hong Kong. Dalam misi tersebut Bujang ditemani oleh Salonga, White, serta si kembar;Yuki dan Kiko. Singkat cerita mereka bertemu dengan seorang lelaki misterius bertopeng khas tokoh terkenal, Zorro, dengan gitar yang diselempangkan di punggungnya. Lelaki misterius bertopeng tersebut menantang Bujang untuk berduel satu lawan satu untuk memutuskan siapa yang berhak membawa prototype teknologi anti serangan siber tersebut. Dengan penuh kepercayaan diri Bujang menerima tantangan tersebut, akan tetapi, lelaki misterius bertopeng yang menjadi lawannya itu bukanlah lawan yang pantas untuk diremehkan. Kemisteriusan lelaki bertopeng tersebut semakin bertambah ketika pada saat-saat terakir sebelum ia menghilang, ia memanggil Bujang dengan panggilan “Hermanito”, yang memiliki arti “my little brother”.
Teka-teki tentang panggilan hermanito ini yang akan mengantar Bujang pada penelusurannya tentang kisah hidup bapaknya yang ia benci, termasuk kisah cinta bapaknya yang ternyata tidak hanya pada Midah, ibu Bujang. Teka-teki masa lalu ini pula yang akan mempengaruhi Bujang dalam menentukan ke mana ia akan membawa Keluarga Tong dan dirinya sendiri “pergi”. Dalam novel ini, kisah percintaan paling dominan adalah tentang kisah cinta Samad bapak Bujang yang rumit. Tapi percayalah, justru kisah cinta ini yang akan menjadi salah satu bumbu penyedap yang menjadikan pembacanya ingin terus membuka lembar demi lembar. Kisah cinta yang disuguhkan akan terasa manis sekaligus pahit, sehingga kisah tentang bapak Bujang ini akan menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu-tunggu.
Bukan hanya tentang kisah cinta, novel ini juga tidak akan lepas dari aksi-aksi Bujang, Keluarga Tong beserta aliansinya melawan Master Dragon beserta antek-anteknya. Yang juga saya suka dari novel ini adalah bagaimana Bujang menyampaikan ide-ide briliannya. Serta bagaimana Salonga menjelaskan banyak hal pada Bujang. Adegan perkelahian juga tidak akan lepas, meskipun porsinya menurut saya lebih sedikit jika dibandingkan dengan novel Pulang.
Tidak hanya melulu berlatar suasana tegang dan serius dari awal sampai akhir, dalam novel ini ada beberapa bagian yang akan membuat tertawa dan terhibur. Adanya tokoh-tokoh yang bertingkah kocak membuat pembaca bisa menikmati cerita dengan lebih santai dan tidak melulu berpikir serius. Salah satu bagian yang paling menghibur menurut saya adalah saat Salonga memrahi Bujang karena kalah dalam ronde pertama saat duel dengan Maria.
Konsentrasi! Fokus!Salonga mendengus, “Atau jangan-jangan kamu tak bisa mengedipkan mata melihat gadis cantik itu, hah? Terpesona melihat mata birunya?” (halaman 317).
Atau pada saat Yuki dan Kiko menggoda Payong di dalam mobil saat perjalanan menuju Ibu Kota
            “Astaga, aku dipanggil nyonya.Kiko  menepuk dahinya, “Apakah aku terlihat seperti ibu-ibu, heh? Bawa gelang emas sekilo, menor? Lihat penampilan kami sangat modis dan berjiwa muda”(halaman 68).

IKHTISAR
Dalam novel ini, pembaca akan bertemu dengan tokoh-tokoh lama yang sebelumnya ada di novel Pulang. Seperti yang disebutkan sebelumnya, tokoh-tokoh tersebut antara lain Salonga, Yuki dan Kiko, White, Tuanku Imam, Togar, Master Dragon, dan masih banyak lagi. Selain itu akan muncul pula tokoh lama yang tak disangka akan muncul kembali, Basyir. Lantas untuk apa Basyir kembali muncul? Apakah ia akan melakukan pengkhiatan lagi?
Pengembangan setiap karakter terjadi dengan sangat baik. Bujang yang menjadi Main Character pada kisah ini mengalami pengembangan yang luar biasa, ia berubah menjadi lelaki dewasa dengan tanggung jawab penuh sebagai Tauke Besar, oleh sebab itu akan ditunjukkan banyaknya pertimbangan Bujang dalam memecahkan masalah.
Salonga juga memiliki porsi yang banyak kemunculannya. Ia terus mendampingi Bujang mulai dari awal hingga akhir cerita. Kehadiran Salonga yang berperan sepertu teman sekaligus bapak ini menjadikan novel ini lebih meriah. Terlebih dengan penokohan Salonga yang suka meledek dan memarahi Bujang, entah mengapa itu menjadi humor tersendiri. Selain itu, tokoh lain seperti Yuki dan Kiko, Togar, White, dan lainnya memiliki porsi yang pas dalam cerita ini. Setiap karakter memiliki peranannya sendiri-sendiri yang saling melengkapi satu sama lain.
      Selain tokoh lama yang muncul, banyak juga tokoh baru yang baru muncul di novel Pergi ini. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya ialah Rambang, Lubai, Otets dan Maria, Hiro dan Kaeda Yamaguchi,Vasily, Yurii si pembuat bom, serta Diego dan Catrina yang memegang banyak rahasia, dan banyak tokoh lainnya. Semuanya dikisahkan dengan apik dan rapi, sehingga membuat pembaca tertarik dengan kisah yang dibawa oleh tokoh-tokoh baru tersebut.
Tidak hanya tokoh lama dan tokoh baru, Tere Liye nampaknya mulai senang memunculkan tokoh cameo dalam novelnya. Kali ini Thomas (tokoh dalam novel “Negeri di Ujung Tanduk” dan “Negeri Para Bedebah”) yang muncul membantu Bujang dalam suatu keadaan. Selain itu, nahkoda kapal Von Humboldt, yang bernama Philips, saya merasa yakin nahkoda tersebut adalah keturunan dari nahkoda kapal Blitar Holland yang ada pada novel “Rindu” yang juga bernama Philips. Hal ini tidak pertama kali dilakukan, sebab pada novel “Tentang Kamu”, Tere Liye juga memunculkan cameo pada novelnya. Dan menurut saya ini sangat menyenangkan membacanya, terlebih jika cameo-nya yang dimunculkan merupakan bagian dari universe kepenulisan Tere Liye. Antara novel satu dengan yang lain, tokoh satu dengan yang lain menjadi terasa dekat.
Bagi saya pribadi, tokoh yang paling saya senangi dalam novel Pergi ini adalah Salonga. Kehadiran Salonga untuk selalu menemani Bujang menurut saya sangat pas sebagai penasehat Bujang dan sebagai pemecah suasana. Beberapa kali saya sampai tertawa membaca dialog maupun situasi yang dimunculkan dari Salonga. Salah satu di antaranya adalah saat Bujang mengomel dalam hati karena Salonga mengomelinya gara-gara kalah dari Maria.
Astaga. Aku punya tiga guru penting dalam hidupku. Kopong, Guru Bushi, dan Salong. Dua sudah meninggal, menyisakan Salonga. Dan dialah guru paling menyebalkan yang pernah kumiliki. Dulu tak kurang ribuan kali dia memakiku bodoh, sekarang? Bukannya mendukungku, memberi motovasi, dia justru mengeluarkan kalimat menyebalkan itu (menggoda Bujang tentang Maria)”, halaman 317-318. Dan pada pembicaraan penting saat sunrise di kapal Van Humboldt,“atau minimal, jika kamu belum bisa menentukan hendak pergi ke mana, Moscow mungkin bisa jadi pilihan yang baik”, “Moscow?”, “yeah, Moscow. Ada seorang gadis cantik, pintar, dan berani yang telah menyerahkan hatiya kepadamu di sana, Bujang. Maria, namanya—kalau kamu lupa.Salonga terkekeh, “Hidupmu mungkin lebih berwarna setelah menikah.”halaman 396.
DESAIN COVER
      Desain cover depan pada novel ini menggambarkan jalanan perkotaan di sore hari dengan warna dasar biru tua. Mungkin yang dimaksud dalam gambar ini menyiratkan jalanan mana yang akan Bujang lalui untuk membawa Keluarga Tong dan dirinya “pergi”. Saya menyukai desain cover untuk novel Pergi ini.


KELEBIHAN
     Banyak sekali kelebihan yang bisa ditemui dalam novel ini. Di antaranya ialah, pertama, menambah kosa kata bahasa asing. Karena cerita ini akan membawa kita “jalan-jalan” ke banyak negara, maka tidak heran kalau banyak kosa kata bahasa asing yang menambah ke-khas-an dialog. Saya tidak bisa menyebutkan satu persatu kosa kata bahasa asing tersebut, akan tetapi kosa kata tersebut berasal dari bahasa Spanyol, Jepang, Inggris, serta Moscow. 
       Kedua berkenaan dengan penggunaan bahasa. Saya selalu menyukai gaya bahasa Tere Liye. Ini merupakan poin penting bagi saya. Tere Liye selalu berhasil menyederhanakan sesuatu yang rumit. Bahasa yang digunakan selalu lancar, sederhana, renyah, namun tetap indah. Setiap pemilihan katanya selalu pas dan membuat pembacanya merasa memiliki pengetahuan baru. Ini juga yang membuat saya jatuh cinta pada dunia kepenulisan Tere Liye. Penggunaan bahasanya bagi saya pas untuk semua orang. Meskipun beliau menulis novel ini bersama dengan co-author, akan tetapi saya merasa bahwa gaya bahasa yang digunakan sama dengan novel-novel karangan beliau sebelumnya.

KEKURANGAN 
     Saya yakin sepenuhnya, setiap tulisan manusia pasti memiliki kekurangan. Tak lepas pula dari novel ini. Kekurangan yang saya temukan dalam novel ini, pertama,tidak ada terjemahan pada setiap kosa kata asing. Baiklah, mungkin memang bagus untuk membuat pembaca penasaran sehingga mencari sendiri arti dari bahasa asing yang telah disampaikan, meskipun pula arti beberapa kosa kata akan dijelaskan secara tidak langsung pada dialog selanjutnya maupun narasi selanjutnya, akan tetapi menurut saya akan lebih mudah untuk dipahami jika dibuatkan catatan kaki di bagian bawah halaman atau dibuatkan glosarium di halaman belakang setelah epilog. Tidak semua pembaca rela jika keseruan membacanya menjadi terpotong untuk mencari arti satu-dua kata asing dalam novel karena penasaran arti kata yang disampaikan karakter cerita. Terutama pada tulisan dari bahasa Moscow, mohon maaf sekali, tidak semua orang bisa membaca tulisan dengan bahasa Moscow (termasuk saya, hehe). Jujur saja saya penasaran dengan bagaimana cara membaca dan arti dari kalimat tersebut, tapi sepertinya saya harus sedikit belajar dulu tentang bahasa itu, itu akan membutuhkan waktu. 
       Kedua, saya menemukan beberapa penulisan yang salah ketik. Meskipun tidak terlalu banyak dan tidak mempengaruhi isi cerita, akan tetapi ini bisa digunakan bahan koreksi. Berikut beberapa di antaranya. “Itu berarti pukul 19.00, pembunuh Kim harus sudah mati” (halaman149). Sepertinya yang dimaksud dalam kalimat tersebut bukan pembunuh Kim, akan tetapi pembunuh Rambang. Sebab bibi Kim--ibu Rambang--beliau ada di rumah bersama suaminya dan tidak meninggal. Selanjutnya, “...departemen, sesuai organisasi Keluara Tong” (halaman 160), seharusnya “Keluarga Tong”; “...tiga sedang hitam” (halaman 292), mungkin yang dimaksud “tiga sedan hitam”; “...tukang pukul Keluarag Lin” (halaman 368), seharusnya “Keluarga Lin”; “...sejauh 400meter” (halaman 383), seharusnya “400 meter”; dan “...alat komunikaskui” (halaman 427) , seharusnya “alat komunikasiku”. Akan tetapi, kesalahan-kesalahan ketik tersebut sangat manusiawi dan sama sekali tidak berdampak pada isi cerita. mungkin penulis dan editor sangat bersemangat saat mengerjakan naskah novel ini.

TOKOH
1. Bujang: berperan sebagai tokoh utama
2. Yuki dan Kiko: sebagai tokoh utama yang sifatnya menggemaskan dan centil
3. Salonga: berperan sebagai guru yang menembak Bujang
4. Lubai, Otets, Rambang, Maria, dan Hiro: sebagai tokoh pendamping
5. Kaeda, Yuri, Diego, Catrina, dan tokoh-tokoh lainnya yang ikut serta menyukseskan hingga akhir cerita.








Thursday, November 14, 2019

Coretan Prosa Uswaa

Uswatun Hasanah


Jika lelah, berhentilah sejenak
Meluruskan kaki, mengatur napas,
mempersiapkan kembali bekal atau
menengok sebentar ke belakang,
tentang apa-apa yang sudah terlewati,
dan apa-apa yang mesti harus diperbaiki.


Jalan masih panjang...

Istirahat sebentar tak mengapa,
asal jangan terlena,
sebab tujuanmu ada di depan
Kamu harus terus bergerak maju 
Bukan terpaku melihat masa lalu 

Aksara Senja
14 November 2019


Sunday, November 10, 2019

Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara

LAPORAN HASIL WAWANCARA
“ Pejabat Publik “


Dosen Pengampu : Rita Anggraini S.Pd, M.Pd

Disusun Oleh :
KELOMPOK 5
LARASSANTI ( 19136152 )
REZA FITRIA ( 18052117 )
ULFAH PUTRI KHALID SRG ( 18052056 )
USWATUN HASANAH ( 19016130 )
YULIA NUR RAHIMAH ( 19016134 )


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
        Sudah bertahun-tahun pancasila ditetapkan sebagai dasar negara kesatuan Republik Indonesia, Pandangan hidup bangsa Indonesia, Filsafat bangsa dan sendi kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu Tidak diragukan lagi peran pancasila di negara kita ini yaitu Indonesia. Untuk itu penerapan  sila-sila dalam Pancasila suatu hal yang wajib dilakukan bagi tiap-tiap warga negara.
        Namun, saat ini penerapan Pancasila hanya menjadi teori di kampus bahkan masyarakat pun hanya mengetahui bunyi butir pancasila tanpa mengetahui makna yang terkandung didalamnya. Pancasila hanya dijadikan suatu simbol tanpa ada tindakan nyata bagi terciptanya masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Mahasiswa yang merupakan pejuang perubahan pengamalan pancasila yang lebih baik yang seharusnya menggerakkan penerapan, pancasila kini mulai hilang semangatnya.
        Oleh karena itu, kami mewawancarai dua narasumber yang merupakan pejabat public umtuk mengetahui dan menganalisis lebih lanjut sejauh mana penerapan nilai-nilai pancasila di lingkungan kerja dan sekitarnya.

Identifikasi Masalah
Apakah penerapan pancasila di masyarakat terutama di lingkungan kerja masih sesuai dengan nilai-nilai pancasila?

Waktu dan Tempat Kegiatan
Wawancara ini dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal  : Rabu, 18 September 2019
Pukul                : 09:30 WIB - selesai
Tempat             : -   Batalyon Infanteri 133/Yudha Sakti atau Yonif 133/YS
    -   SMA Pembangunan Laboratorium UNP

Tujuan
Tujuan observasi yang kami lakukan adalah :
Mengetahui apakah penerapan aturan di lingkungan kerja dan sekitarnya sudah sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada pancasila
Mengamati penerapan aturan di lingkungan kerja dan sekitarnya dengan cara mewawancarai pejabat public yang bekerja di tempat lokasi


BAB II
PEMBAHASAN
Narasumber  1 Anggota TNI
Identitas Subjek Wawancara Anggota TNI
Nama Lengkap : -  Sersan 2 Susando Prayuga Aditya Nugraha
                            -  Sersan 1 Hari Susandi

Hasil Wawancara
Pertanyaan yang Diajukan :
Pewawancara : Disini kami ingin wawancara bapak, apakah boleh pak?
Narasumber    : Iya boleh, silahkan
Pewawancara  : maaf sebelumnya pak, nama bapak siapa?
Narasumber     : Nama saya Sersan 2 Susando Prayoga Aditya Nugraha
Pewawancara   : Bapak, pak?
Narasumber      : Sersan 1 Hari Susandi
Pewawancara    : Kami dari kelompok akan mewawancarai bapak tentang yang pertama pak, apakah masyarakat di sekitar batalyon ini sudah mengamalkan nilai-nilai pancasila sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang kita anut pak?
Narasumber       : Pengamatan saya selama saya disini, untuk masyarakat disini sudah mengamalkan nila-nilai pancasila. ya contohnya sila yang pertama Ketuhanan yang Maha Esa, masyarakat disini untuk sholatnya saya pikir sudah mengerjakan sholat 5 waktu. Sila yang kedua kan kemanusiaan yang adil dan beradab, saya kira disini masyarakatnya ya adil, bagus, saling tenggang rasa. Kemudian kita itu kan ada yang namanya sosialisasi pinter (pembinaan territorial) jadi yang kita adakan itu ke masyarakat, kita bergabung dengan masyarakat yang melaksanakan bersama yaitu gotong royong, yang kedua ronda malam jadi kita berbaur. Ya saya kira masyarakatnya cukup baik disini antusias, apa yang kita butuhkan mereka mau memberikan, contohnya kalo kita pergi ke kelurahan ngurus surat keperluan kita seperti KK-KTP, mereka cepat menanggapi
Pewawancara   : Dan selanjutnya pak, apakah peraturan yang berlaku disini (di batalyon) sudah sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang kita amalkan, pak ?
Narasumber      : Iya sudah sesuai dengan nilai-nilai pancasila,peraturan yang ada di batalyon ini. Yang pertama itu untuk sholat 5 waktu kami diwajibkan, ya di batalyon ini tidak hanya agama itu hanya islam, tidak kami seluruh agama yang di Indonesia ini sudah ada di batalyon ini dari islam, Kristen protesta, katolik, hindu, budha sudah ada disini. Ya kami sholat itu kan wajib 5 waktu, yang untuk nasrani tiap minggunya diberi waktu untuk melaksanakan ibadah, begitu juga dengan hindu dikasih setiap jam 6 sore dia tuh diberi waktu untuk beribadah
Pewawancara   : jadi saling menghagai ya pak?
Narasumber      iya saling menghargai, tidak ada yang membedakan
Pewawancara   : trus pelaksanaan sholat 5 waktunya itu wajib berjamaah atau bagaimana pak?
Narasumber      : berjamaah di masjid, jadi waktunya jam sholat 30 menit sebelum memasuki sholat semuanya sudah berada di dalam masjid
Pewawancara   : lalu pak, bagaimana cara melakukan adaptasi antara bapak dengan rekan yang menganut agama lain?
Narasumber      : beradaptasinya, ya sama tidak ada perbedaan. Sama-sama tidak ada yang membedakan kita, berblok-blok ( berkelompok ) itu tidak ada, jadi satu. Perbedaan itu yang menyatukan jadi kita tau agama mereka seperti apa untuk kita mendalami kan, mendalami dalam arti oh seperti ini cara beribadah mereka jadi dalam hati kami kan gimana sih orang bali itu beribadah, oh seperti ini cara berdoa mereka, jadi menurut saya itulah indahnya perbedaan. Dan untuk peraturannya disini ya intinya baik-baik dengan masyarakat, rakyat adalah ibu kandung kami jadi apa yang dibutuhkan rakyat, apa yang kami punya akan kami kasih untuk rakyat, pengabdian kami hanya untuk rakyat. Menurut saya begitu saja.
Pewawancara   : kalo di pancasila itu kan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia gitu pak, di sekitar sini sendiri ada gak pak penyamaan strata untuk komandan sama bawahannya pak?
Narasumber      : ada, ya sama aja komandan itu sama seperti biasa cuma kita itu menghargai dari pangkatnya. Misalnya kita sebagai bawahan kita harus hormat kepada atasan
Pewawancara   : udah segitu aja pak, makasih atas waktu yang bapak berikan pak
Narasumber      : sama-sama


Narasumber  2 Guru SMA Pembangunan Laboratorium UNP
Identitas Subjek Wawancara Guru SMA Pembangunan Laboratorium UNP
Nama Lengkap : Satryo Hariadi

Hasil Wawancara
Pertanyaan yang Diajukan :
Pewawancara   : Jadi begini pak kami ada tugas mata kuliah pendidikan pancasila, disini kami disuruh untuk mewawancarai pejabat public pak. Mohon maaf sebelumnya pak, nama bapak siapa ya pak ?
Narasumber      : nama saya Satryo Hariadi
Pewawancara   : jadi begini pak, apakah dalam lingkungan sekolah ini sudah mengamalkan nilai-nilai pancasila yang ada, pak? Jika ada apa saja yang diamalkan?
Narasumber      : yang pertama yaitu Ketuhanan yang Maha Esa itu sudah diterapkan oleh bagaimana kita dalam beribadah, contohnya dalam sholat 5 waktu, sholat 5 waktu itu tidak di sekolah saja kita menjaga anak sholat 5 waktunya dari rumah juga kita jaga dalam bentuknya catatan, jadi di sekolah tiap hari kita harus cek dulu catatannya apakah ada sholat subuhnya dan semuanya sholat 5 waktu. Lalu lanjut ke karena disini sekolah pembangunan ada program hafidz Al-quran kebetulan saya guru hafidz Al-quran disini, disini bukan hanya termasuk ekskul di sekolah lain hafidz masuk ekskul tapi di SMA pembangunan ini hafidz Al-quran itu sudah termasuk kepada PBM ( Program Belajar Mengajar ) setiap hari. Itulah salah satu bukti nilai pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa.
Pewawancara   : selanjutnya pak, apakah peraturan di sekolah ini sudah sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang kita anut?
Narasumber      : kalau peraturan insyaallah sudah dijalankan dengan baik, kami baru melakukan akreditasi baru-baru ini dan Alhamdulillah telah keluar hasil akreditasi dan kami kembali memperoleh akreditasi A dengan nilai 92 jadi disana ada penilaian tentang bagaimana sikap anak sudah pasti menerapkan nilai pancasila, kalau belum menerapkan apa yang diajarkan pancasila tidak mungkin kami mendapatkan akreditasi A begitu.
Pewawancara   : berarti pengamalan nilai-nilai pancasila itu sudah dilakukan secara menyeluruh kepada seluruh siswa, pak?
Narasumber      : kalau menyeluruh, sudah menyalurkan secara keseluruhan tapi kalau penerapannya tergantung pada siswanya , apakah siswanya mau menerapkan apa tidak pelajaran yang telah kami ajarkan tentang pancasila dan itu sebenarnya tergantung kepada orangtua di rumah, kita sebagai guru disini hanya memberikan contoh dan memdidik selebihnya itu lebih banyak dipelajari di rumah dan sangat berpengaruh kepada orangtua bukan hanya guru, guru hanya sebagai pendidik di sekolah dan untuk keseluruhan dari sikap, adab itu semua tergantung pada orangtua di rumah
Pewawancara   : baiklah itu aja pak terima kasih atas waktu yang bapak berikan. Terima kasih pak
Narasumber      : segitu aja, baik sama-sama


PEMBAHASAN HASIL WAWANCARA

Hasil wawancara dengan Anggota TNI

Identitas Subjek Wawancara Anggota TNI
           Nama Lengkap : -  Sersan 2 Susando Prayuga Aditya Nugraha
                                      -  Sersan 1 Hari Susandi

          Anggota TNI yang kami wawancarai merupakan perwira dari Batalyon Infanteri 133/Yudha Sakti atau Yonif 133/YS. Kami melakukan wawancara saat Bapak-bapak TNI tersebut sedang istirahat di kantin depan Batalyon.
         Kami memilih Anggota TNI untuk kami wawancarai karena kami merasa Bapak-bapak TNI pasti akan lebih mengetahui penerapan nilai-nilai pancasila kepada masyarakat. TNI sering terjun ke tengah-tengah masyarakat sehingga itu menjadi salah satu alasan kami untuk mewawancarai Bapak-bapak tersebut.
         Penerapan nilai-nilai pancasila sendiri di lingkungan sekitar Batalyon sudah memenuhi kriteria dalam nilai-nilai pancasila yang kita ketahui, itu terbukti dari beberapa pertanyaan yang kami ajukan. Bapak-bapak TNI tersebut mengaku bahwa salah satu penerapan nilai-nilai pancasila yang dilakukan di sekitar Batalyon adalah pemberian waktu untuk beribadah kepada setiap anggota dan bagi anggota yang memeluk agama islam juga diwajibkan untuk melaksanakan sholat 5 waktu dengan berjamaah. Yang mana ini merupakan contoh dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
          Dan juga peraturan di sekitar Batalyon juga sudah sesuai dengan nilai-nilai pancasila, dimana dapat dilihat dari saling menghargai antar anggota dalam menjalankan ibadah dan juga tidak adanya penggelompokan dalam anggota, karena menurut Pak Prayuga dan Pak Hari perbedaan itulah yang menyatukan para anggota TNI.

Hasil wawancara dengan Guru SMA

Identitas Subjek Wawancara Guru SMA
Nama Lengkap : Satryo Hariadi
          Setelah kami mewawancarai Anggota TNI, kemudian kami melanjutkan mewawancarai Pak Satryo Hariadi yang merupakan seorang guru agama di SMA Pembangunan Laboratorium UNP.
          Adapun hasil wawancara kami adalah Pak Satryo mengatakan bahwa di lingkungan SMA Pembangunan sendiri sudah memenuhi dari penerapan nilai-nilai pancasila itu sendiri dimana dapat dilihat dari adanya buku catatan untuk mengetahui apakah setiap siswa mengerjakan sholat 5 waktu atau tidak dan Pak Satryo juga mengatakan bahwa buku cacatan para siswa akan diperiksa setiap paginya.
          Kemudian Pak Satryo juga mengatakan bahwa aturan yang diberlakukan di SMA Pembangunan sudah sesuai dengan nilai-nilai pancasila, hal itu bisa dilihat dari sekolah tersebut yang memperoleh akreditasi A dengan nilai 92 yang dimana dalam penilaian akreditasi tersebut juga dilihat dari sikap para siswa di sekolah.


BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
          Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan anggota TNI dan juga Guru SMA dapat disimpulkan bahwa pancasila sudah diterapkan di kalangan masyarakat terutama di lingkungan kerja, seperti pada masyarakat sekitar Batalyon Infanteri 133 sudah melaksanakan atau menerapkan nilai-nilai pancasil. Contohnya pada sila pertama, masyarakat di dalam lokasi TNI tersebut selalu melaksanakan sholat berjamaah.
          Kemudian penerapan nilai-nilai pancasila di sekolah SMA Pembangunan Laboratorium UNP juga sudah sesuai dengan sila-sila pancasila yang ada terbukti dengan murid-murid yang di wajibkan mempunyai buku catatan sholat yang mana setiap pagi selalu diperiksa dan diterapkannya hafidz Al-quran sebagai PBM ( Program Belajar Mengajar ).
          Jadi secara keseluruhan warga masyarakat terutama di lingkungan kerja pejabat public telah mengamalkan nilai-nilai pancasila sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang kita ketahui.

Friday, November 8, 2019

Puisi "Jeritan Mahasiswa"

Uswatun Hasanah

Bu, Beta lelah
Lelah sekali
Seringkali Beta berbuat baik tapi tidak dihargai
Beta mau pulang
Mau menangis saja rasanya
Di depan orang-orang harus pura-pura bahagia
padahal ambyar
Ingin Beta pulang lalu menangis sepuasnya di pelukanmu

Kuliah dari pagi hingga malam
Tuntutan tugas yang tak pernah habis
Beta sudah berusaha yang terbaik
Namun acap kali dimarahi

Lelah fisik
Lelah hati
Banyak tuntutan ini itu
Beban terasa berat sekali
Bu, Beta lelah
Lelah sekali



Aksara Senja
08 Oktober 2019

Thursday, November 7, 2019

Pengertian literasi, jenis, fungsi, tujuan, dan faktor yang mempengaruhi literasi

MAKALAH
LITERASI BAHASA INDONESIA

LITERASI
Dr. ABDURAHMAN, M. Pd


Oleh
Kelompok 1 :
Lamyra Yeri Ramala
Mulia Resti
Nurul Aliyah
Uswatun Hasanah
Yulia Nur Rahimah

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2019

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Literasi adalah proses membaca, menulis, berbicara, mendengarkan, melihat, dan berpendapat (kuder dan hasit 20002). Namun secara umum definisi litersi adalah kemampuan membaca dan menulis serta menggunakan bahasa lisan.
Kemampuan literasi sangatah penting baik dalam pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambah canggihya teknologi, orang-orang zaman sekarang mulai meninggalkan dan menyingkirkan budaya literasi dan memilih untuk mendapatkan informasi yang instan dan belum diketahui kebenaran dan keilmiahan dari info yang didapatkannya tersebut.
Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai sejumlah pengetahuan atau bidang studi yang harus dipelajari. Kesulitan membaca dikelas awal akan sangat berdampak dikelas selanjutnya. Sehingga gerakan literasi haruslah lebih ditekankan lagi terutama di Indonesia.
Data statistik UNESCO pada tahun 2016 menyebutkan indeks minat baca di indnesia baru mencapai 0,001. Artinya dari 1000 penduduk hanya satu warga untuk tertarik membaca dan menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO ini, indonesia berada di nomor 69 dari 127 negara. Dengan demikian minat baca di indonesia haruslah di tingkatkan.

Batasan Masalah
Agar makalah ini lebih terarah dan menghindari pembahasan yang terlalu luas, maka penulis perlu membatasinya. Adapun batasan penulisan makalah ini:
Hakikat dan pengertian literasi
Jenis literasi
Fungsi literasi
Tujuan literasi
Faktor yang mempengauhi literasi
Proses dan langkah literasi efektif

Tujuan Penelitian
Untuk lebih mengetahui dan memahami apa itu literasi
Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis literasi
Untuk mengetahui apa saja fungsi dari literasi
Untuk mengetahui apa tujuan dari litersi tersebut
Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi literasi
 Mengetahui langkah efektif untuk berliterasi

Manfaat Literasi
Manfaat teoritis
Manfaat ini dapat menguatkan teori-teori yang sudah ada. Peran kegiatan literasi dapat meningkatkan minat membaca dan menulis.
Manfaat praktis
Bagi siswa
Meningkatkan pemahaman siswa dalam peran pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah untuk meningkatkan minat membaca dan menulis.
Membiasakan siswa untuk membaca buku nonpembelajaran maupun buku pelajaran dan menulis ringkasan buku.
Bagi guru
Sebagai pedoman kegiatan literasi untuk meningkatkan minat membaca dan menulis untuk siswa.
Bagi sekolah
Memberikan informasi kepada sekolah mengenai kegiatan literasi sekolah yang berfokus pada pembiasaan membaca dan menulis dalam upaya meningkatkan minat siswa.
Bagi penulis
Pengalaman berharga untuk melaksanakan tugas dimasa yang akan datang
Memberikan pengalaman lapangan tentang kegiatan literasi yang berfokus pada pembiasaan membaca dan menulis siswa


BAB II
PEMBAHASAN

Hakikat Literasi
Literasi adalah kemampuan tiap-tiap individu untuk memahami dan menyerap informasi dari yang dibaca.
Pengertian literasi menurut para ahli :
Cordon (2003)
Literasi adalah ilmu pengetahuan yang mampu membangun imajinasi ilmuan lain untuk menjelajah dunia dan ilmu pengetahuan berdasarkan referensi yang ia baca.
Alberta (2009)
Menurutnya literasi bukan lah hanya sekedar kemampuan untuk membaca dan meulis saja. Namun, juga menaambah pengetahuan keterampilan dan kemampuan berfikir kritis dalam menyelesaikan masalah dan juga agar mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan potensi dan berpartispasi aktif dalam masyarakat.
Elizabeth Sulzby (1986)
Literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi sesuai dengan tujuan masing-masing.

Jenis Literasi
Pada dasarnya, literasi ini dibagi menjadi beberapa jenis literasi, diantaranya sebagai berikut :
Literasi dasar
Kemampuan untuk membaca, mendengarkan, menulis, serta juga menghitung.
Literasi perpustakaan
Kemampuan lanjutan untuk dapat mengoptimalkan literasi perpustakaan yang ada.

Literasi media
Kemampuan untuk dapat mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda dan juga dapat mengerti penggunaan dari masing-masing media yang ada tersebut.
Literasi teknologi
Kemampuan untuk dapat memahami kelengkapan dalam suatu teknologi.
Literasi visual
Kemampuan utuk menginterpretasi dan memberi makna dari sebuah informasi yang berbentuk gambar atau visual.

Fungsi Literasi
Menumbuh kembangkan budi pekerti yang baik
Maksudnya yaitu dengan pengetahuan yang telah kita miliki kita dapat membedakan antara mana yang baik dan mana yag buruk.
Meningkatkan budaya literasi disekolah atau masayarakat
Literasi dapat mengubah pola pikir seseorang menjadi lebih baik, maka dari itu mari kita membudayakan literasi terutama di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Meningkatkan pengetahuan
Kegiatan utama dalam literasi adalah membaca, maka dengan membaca pengetahuan kita akan bertambah dan semakin banyak pula informasi yang diperoleh.
Meningkatkan kepahaman
Kita pernah mengalami kesulitan dalam memahasi sebuah informasi, tapi melalui literasi dapat memudahkan kita untuk mengambil inti dari informasi yang didapatkan.
Mengisi waktu agar lebih berguna
Contohnya, kita bisa memanfaatkan waktu luang kita dengan berliterasi baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Memberikan penilaian kritis
Tujuan selanjutnya yaitu kita dapat mengkritisi karya orng lain. Maksud mengkritisi dalam hal ini adalah kita bisa memperbaiki suatu karya atau membangun karya berikutnya.

Memperkuat nilai kepribadian
Pengetahuan yang didapat dari literasi akan semakin mematangkan nilai yag ada dalam diri seseorang.

Tujuan literasi
Membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca berbagai informasi bermanfaat
Membantu meningkatkan tingkat pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca
Meningkatkan kemampuan seseorang dalam memberikan penilaian kritis terhadap suatu karya tulis
Membantu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik di dalam diri seseorang
Meningkatkan nilai kepribadian seseorang melalui kegiatan membaca dan menulis
Menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas
Membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang sehingga lebih bermanfaat

Faktor yang mempengaruhi literasi
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat literasi membaca siswa di sekolah dasar :
Faktor sosial-ekonomi keluarga
Orang tua yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, bekerja lebih banyak, pasti memiliki lebih banyak buku-buku, dan ini lah faktor yang paling mempengaruhi dalam kegiatan literasi.
Kolaborasi siswa dan keluarga
Contohnya, membaca bersama antara anak dan orangtua, orangtua yang membacakan cerita kepada anak, berkunjung ketoko buku, keperpustakaan bersama, bermain dengan mainan huruf, bermain permainan kata, menulis huruf dan kata.

Kegiatan membaca diluar sekolah
Frekuensi membaca buku yang sering dengan tema yang bervariasi akan meningkatkan literasi membaca siswa, dan membaca komik tidak bisa dimasukkan kedalam kategori faktor yang memfasilitasi peningkatan literasi membaca siswa.
Kegiatan membaca siswa disekolah
Jika dirumah siswa bisa dan boleh membaca apa saja yang disuka, maka disekolah materi untuk membaca sudah ditentukan oleh guru.
Pencapaian literasi yang lebih baik diperlihatkan oleh siswa yang membaca buku yang bervariasi, puisi, buku-buku fiksi atau permainan di sekolah setidaknya satu kali dalam seminggu.

Proses dan langkah literasi efektif
Tumbuhkan kesadaran pentingnya membaca
Budayakan membaca disekolah
Optimalkan peran perpustakaan
Biasakan hadiah berupa buku
Bentuklah komunitas baca
Biasakan menulis buku harian
Hargai karya tulis



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Literasi sangatlah penting dalam kehidupan saat ini, namun seiring dengan perkembangan zaman, literasi mulai ditinggalkan. Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada pembaca dan pendengar agar mampu meningkatkan minat membaca dan menulis.

Saran
Pada saat pembuatan makalah ini, penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Dengan sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan dari banyaknya sumber penulis akan memperaiki makalah tersebut. Oleh sebab itu penulis harapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan diatas.



DAFTAR PUSTAKA

Eprints.ums.ac.id
https://dosenppkn.com/fungsi.literasi/
https://megawardhaniblogspot.com
https://pendidikan.co.id
https://www.ayoksinau.com
https://www.educenter.id
https://www.indonesiastudent.co
https://www.literasipublic.com
https://www.maxmanroe.com